Logo

Aksi Iklim Dimulai Hari Ini: Menteri LH Ajak Masyarakat Bergerak dari Lingkungan Terdekat

06 Juni 2026 318 Dilihat
Aksi Iklim Dimulai Hari Ini: Menteri LH Ajak Masyarakat Bergerak dari Lingkungan Terdekat

Jakarta, 6 Juni 2026 – Menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya dengan komitmen dan target di atas kertas. Dalam Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 bertema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa aksi iklim harus diwujudkan melalui langkah-langkah nyata yang dimulai dari lingkungan terdekat masyarakat.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Lebih dari 60 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir yang menghadapi ancaman kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, dan gangguan ketahanan pangan. Sementara itu, lebih dari 90 persen bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologis seperti banjir, longsor, dan kekeringan.

Di tengah tantangan tersebut, Indonesia tetap berkomitmen menjalankan Paris Agreement untuk menjaga kenaikan suhu global sedekat mungkin pada batas 1,5 derajat Celsius. Komitmen itu diwujudkan melalui Enhanced Nationally Determined Contribution (Enhanced NDC) 2030 dengan target penurunan emisi sebesar 31,89 persen melalui usaha sendiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional, serta melalui strategi jangka panjang Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050).

Menurut Menteri Jumhur, pencapaian target tersebut tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat melalui aksi iklim yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan menunggu langkah besar. Aksi iklim dimulai dari keputusan-keputusan yang kita ambil setiap hari, dari rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, hingga lingkungan sekitar kita,” ujar Menteri Jumhur.

Oleh karena itu, KLH/BPLH mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan berbagai langkah sederhana namun berdampak nyata, seperti mengurangi penggunaan plastik dan sampah sekali pakai, memilah sampah dari sumber, menghemat energi dan air, serta membangun budaya hidup bersih dan lestari di lingkungan masing-masing.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mengembangkan praktik ekonomi sirkular melalui bank sampah dan berbagai inisiatif pengelolaan sampah berbasis komunitas. Pendekatan ini tidak hanya membantu mengurangi pencemaran, tetapi juga membuka peluang ekonomi sekaligus mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

Aksi iklim juga diwujudkan melalui upaya pemulihan lingkungan, termasuk gerakan penanaman pohon secara masif yang ditargetkan mencapai dua miliar pohon. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan iklim, menjaga ketersediaan air, mengurangi risiko banjir, memulihkan ekosistem, serta meningkatkan penyerapan karbon.

Menteri Jumhur menegaskan bahwa menjaga iklim bukan hanya soal mengurangi emisi, tetapi juga memastikan kualitas lingkungan hidup tetap terjaga melalui pengelolaan sampah dan limbah yang lebih baik, pengurangan pencemaran, serta perlindungan kawasan hijau dan ekosistem.

Melalui tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, KLH/BPLH ingin menegaskan bahwa aksi iklim adalah kerja bersama yang membutuhkan partisipasi seluruh elemen bangsa. Perubahan besar tidak selalu lahir dari langkah besar, melainkan dari jutaan tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.

“Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar kepedulian, tetapi tindakan. Karena masa depan iklim Indonesia ditentukan oleh apa yang kita lakukan mulai hari ini,” pungkas Menteri Jumhur.

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image