Logo

Bertindak Lokal untuk Dampak Global, KLH/BPLH Ajak Generasi Muda Jaga Ekosistem Mangrove

23 Mei 2026 387 Dilihat
Bertindak Lokal untuk Dampak Global, KLH/BPLH Ajak Generasi Muda Jaga Ekosistem Mangrove

Jakarta, 23 Mei 2026 — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar Youth Day Out di Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk, Jakarta Utara, untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem pesisir. Kegiatan ini merupakan rangkaian Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 setelah puncak peringatan digelar di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) sehari sebelumnya.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLH/BPLH, Inge Retnowati, menjelaskan bahwa pemilihan ekosistem mangrove sebagai lokasi kegiatan memiliki makna penting karena mangrove merupakan salah satu benteng utama perlindungan pesisir sekaligus bagian dari kekayaan hayati Indonesia yang memiliki manfaat besar bagi lingkungan.

“Ekosistem mangrove memiliki fungsi krusial bagi keberlanjutan lingkungan. Menjaganya tidak bisa sendiri, kita perlu bekerja bersama mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang. Generasi muda adalah agen utama untuk menyebarluaskan informasi ini,” ujar Inge.

Inge berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal bagi para peserta untuk semakin mengenal isu lingkungan hidup dan menularkan praktik baik di lingkungan sekolah maupun rumah masing-masing.

Mengusung tema “Acting Locally for Global Impact”, kegiatan ini melibatkan pelajar SMA dari berbagai sekolah dalam sesi diskusi interaktif, edukasi lingkungan, hingga aksi penanaman mangrove sebagai bentuk keterlibatan langsung generasi muda dalam menjaga keanekaragaman hayati.

Apresiasi terhadap kegiatan ini juga disampaikan Perwakilan Direktorat SMA Kemendikdasmen, Veronika Sihombing. “Keterlibatan langsung pelajar dalam aksi lingkungan penting untuk membangun rasa kepemilikan terhadap lingkungan sejak usia muda”.

Veronika menilai kebiasaan sederhana seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga membawa tumbler dan kotak makan perlu terus didorong sebagai bagian dari budaya hidup ramah lingkungan di kalangan pelajar.

Sementara itu, Ketua Biodiversity Warriors Yayasan Kehati, Haris Zakian, menekankan bahwa generasi muda merupakan pihak yang akan paling merasakan dampak kerusakan lingkungan di masa depan. Karena itu, keterlibatan mereka dalam aksi nyata seperti penanaman mangrove dinilai penting untuk membangun kesadaran sekaligus kedekatan dengan keanekaragaman hayati Indonesia.

Dukungan serupa juga datang dari Pengurus Komunitas Mangrove Muara Angke (KOMMA), Rahmat Zainal. “Kehadiran generasi muda dalam kegiatan tersebut menjadi harapan penting bagi keberlanjutan gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat”.

Melalui kegiatan Youth Day Out, KLH/BPLH berharap edukasi lingkungan tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi juga mendorong lahirnya aksi nyata dan konsistensi generasi muda dalam menjaga keanekaragaman hayati serta ekosistem pesisir Indonesia.

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image
Additional image
Additional image
Additional image
Additional image