Logo

Dari Dapur ke Aromaterapi: Ketika Minyak Jelantah Disulap Menjadi Produk Bernilai

11 Juni 2026 214 Dilihat
Dari Dapur ke Aromaterapi: Ketika Minyak Jelantah Disulap Menjadi Produk Bernilai

Jakarta, 11 Juni 2026 – Bagi banyak orang, minyak jelantah mungkin hanya dianggap limbah dapur yang tidak lagi berguna. Setelah digunakan berulang kali untuk menggoreng, minyak tersebut kerap berakhir di saluran air atau dibuang begitu saja tanpa disadari dapat mencemari lingkungan. Namun di tangan yang kreatif, minyak jelantah ternyata dapat memiliki kehidupan kedua.

Suasana berbeda terlihat di Assembly Hall Jakarta International Convention Center (JCC) Senayan saat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (DWP KLH/BPLH) menggelar pelatihan dan demonstrasi daur ulang minyak jelantah (MIJEL) dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Dalam kegiatan bertema “Mengelola Sampah Rumah Tangga” tersebut, peserta diajak melihat bagaimana limbah rumah tangga dapat diubah menjadi lilin aromaterapi dan sabun yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.

Ketua pelaksana kegiatan, Mayang Syaiful Anwar, mengatakan bahwa pelatihan ini bukan sekadar mengajarkan keterampilan membuat produk, tetapi juga membangun kesadaran mengenai pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga.

"Kami ingin membuktikan bahwa limbah rumah tangga dapat disulap menjadi produk yang bermanfaat. Lilin aromaterapi dari minyak jelantah ini tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga membuka peluang usaha kreatif bagi anggota DWP dan masyarakat sekitar," ujarnya.

Di atas meja praktik, botol-botol berisi minyak jelantah yang semula tampak keruh perlahan berubah menjadi bahan baku produk kreatif. Para peserta mempelajari proses demi proses, mulai dari penjernihan minyak menggunakan bahan sederhana seperti arang kayu dan kulit pisang, hingga mencampurnya dengan pewangi dan pewarna untuk menghasilkan lilin aromaterapi yang menarik.

Selain lilin aromaterapi, peserta juga diperkenalkan pada pembuatan sabun dari minyak jelantah melalui proses saponifikasi. Meskipun membutuhkan waktu pemeraman hingga beberapa minggu, produk yang dihasilkan menjadi contoh nyata bagaimana konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan mulai dari lingkungan rumah tangga.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan sederhana seperti tidak membuang minyak jelantah sembarangan dan mengolahnya kembali menjadi produk bermanfaat dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Melalui pelatihan ini, DWP KLH/BPLH berharap semakin banyak keluarga dan komunitas yang terinspirasi untuk menerapkan prinsip reduce dan recycle dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, perubahan menuju lingkungan yang lebih bersih sering kali berawal dari dapur rumah sendiri.

"Mari jaga bumi sebelum bumi berhenti menjaga kita. Kreativitas tanpa batas, komitmen, dan konsistensi adalah kunci ekonomi sirkular," tutup Mayang.

Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, pelatihan ini menjadi pengingat bahwa setiap orang dapat mengambil peran. Bahkan dari sesuatu yang sering dianggap tidak bernilai, seperti minyak jelantah, dapat lahir solusi sederhana yang bermanfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image