Di sebuah dapur rumah tangga, sisa nasi yang tak habis dimakan mungkin tampak sepele. Kulit buah, sayuran layu, atau makanan basi yang dibuang ke tempat sampah setiap pagi terasa seperti bagian biasa dari rutinitas hidup perkotaan. Namun jauh dari pandangan masyarakat, ketika tumpukan sampah organik itu berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), ia berubah menjadi ancaman yang diam-diam memanaskan bumi: gas metana.
Selama bertahun-tahun, persoalan sampah di Indonesia lebih sering dipandang sebagai isu kebersihan kota semata. Jalanan yang bersih dianggap cukup menjadi indikator keberhasilan pengelolaan lingkungan. Padahal di balik gunungan sampah yang terus bertambah setiap hari, terdapat proses biologis yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dengan daya rusak jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida. Sampah organik yang membusuk tanpa pengelolaan memadai akan menghasilkan gas metana, senyawa yang tidak hanya mempercepat perubahan iklim, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran TPA dan menurunkan kualitas udara perkotaan.
Di Pulau Jawa, ancaman ini semakin nyata. Tingginya kepadatan penduduk, pertumbuhan kawasan perkotaan, serta dominasi praktik open dumping membuat emisi metana dari sektor persampahan terus meningkat. Ironisnya, sebagian besar sumber emisi itu berasal dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: sisa makanan.
Kesadaran bahwa sampah kini berkaitan erat dengan krisis iklim menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan Zero Waste Academy (ZWA) bertajuk “Rencana Aksi Pengurangan Metana dari Pengelolaan Sampah di Surabaya” yang berlangsung pada 19–21 Mei 2026. Forum yang diinisiasi Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan bersama sejumlah organisasi lingkungan itu mempertemukan pemerintah daerah, komunitas pengelola sampah, dan pegiat lingkungan untuk menyusun langkah konkret menekan emisi metana dari sektor persampahan.
Di tengah diskusi teknis mengenai data emisi, pengelolaan rendah karbon, hingga penyusunan rencana aksi daerah, terselip satu pesan penting: perubahan besar justru harus dimulai dari sumber terkecil, yakni rumah tangga.
Kabid Wilayah III Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa, Gatut Panggah Prasetyo, menegaskan bahwa pengendalian gas metana bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kualitas lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat. Menurutnya, tekanan terhadap lingkungan akan terus meningkat seiring bertambahnya volume sampah perkotaan apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan yang lebih komprehensif.
Peringatan itu terasa relevan ketika melihat kondisi berbagai kota di Jawa. Kota Batu, misalnya, menghasilkan sekitar 120 ton sampah per hari dan lebih dari 60 persen di antaranya berupa sampah organik dari pasar tradisional. Dalam iklim pegunungan yang dulu dikenal sejuk dan bersih, penurunan kualitas udara mulai menjadi perhatian baru pemerintah daerah.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi persoalan abstrak yang hanya dibicarakan dalam forum internasional. Ia hadir dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: udara yang semakin panas, aroma menyengat dari TPA, meningkatnya risiko kebakaran sampah, hingga kualitas lingkungan yang perlahan menurun.
Di sisi lain, persoalan ini juga membuka harapan baru. Banyak komunitas mulai menunjukkan bahwa sampah organik sebenarnya tidak harus berakhir di TPA. Pengolahan sederhana seperti kompos rumah tangga, budidaya maggot, hingga pemilahan sampah sejak dari dapur mampu mengurangi timbulan sampah secara signifikan. Ketika masyarakat mulai memilah sisa makanan dari sampah lainnya, maka satu langkah kecil sesungguhnya telah diambil untuk menekan emisi gas rumah kaca.
Koordinator Komunitas Nol Sampah Surabaya, Wawan Sumi, menyebut bahwa masyarakat selama ini cenderung meremehkan sampah sisa makanan, padahal justru dari sanalah ancaman metana terbesar muncul. Karena itu, ia mendorong keterlibatan lebih luas dari hotel, sekolah, kampus, kawasan permukiman, hingga perkantoran untuk mulai mengolah sampah organik secara mandiri.
Bagi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), persoalan sampah hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang mengangkut dan membuang limbah, tetapi juga tentang membangun budaya baru yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pengurangan sampah organik dari sumbernya menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kualitas udara, menekan emisi gas rumah kaca, dan memperkuat ketahanan lingkungan di tengah ancaman krisis iklim global.
Di balik setiap sisa makanan yang dibuang, sesungguhnya tersimpan pilihan: apakah ia akan menjadi bagian dari masalah lingkungan, atau justru menjadi awal perubahan menuju masa depan yang lebih bersih dan sehat.
Karena pada akhirnya, menjaga bumi tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, ia berawal dari keputusan sederhana di dapur rumah kita sendiri.
Surabaya, 19 Mei 2026
Penulis: Yustinus Ade Stirman, Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda pada Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa