Pagi itu, udara di sebuah desa di Boyolali masih menyimpan embun ketika suara sapu lidi mulai terdengar dari halaman musala, gereja, dan balai desa. Anak-anak membawa karung kecil, ibu-ibu memisahkan sampah dapur, sementara para pemuda memungut plastik yang terselip di selokan. Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni mewah. Hanya orang-orang biasa yang perlahan menyadari satu hal penting: lingkungan yang bersih bukanlah hadiah, melainkan hasil dari kebiasaan bersama.
Di banyak tempat di Indonesia, perubahan besar sering kali dimulai dari tindakan kecil yang nyaris tak terdengar.
Januari 2026 menjadi penanda penting ketika gerakan lingkungan mulai bergerak lebih dekat kepada masyarakat. Melalui aksi bersih rumah ibadah serentak di desa-desa Jawa Tengah, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mendorong kesadaran bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi hanya dibebankan kepada pemerintah. Desa, rumah tangga, hingga ruang ibadah didorong menjadi titik awal perubahan perilaku.
Di tengah krisis sampah yang terus membesar, pendekatan semacam ini terasa penting. Sebab masalah lingkungan sesungguhnya bukan hanya tentang gunungan limbah di tempat pembuangan akhir. Ia hadir di sungai yang mulai keruh, udara yang berbau terbakar, hingga halaman rumah yang tak lagi nyaman untuk anak-anak bermain.
Indonesia sedang menghadapi tekanan besar. Dalam data yang disampaikan KLH/BPLH pada Rakornas Pengelolaan Sampah 2026, sekitar 75 persen sampah nasional disebut masih belum tertangani secara memadai. Artinya, lebih dari seratus ribu ton sampah per hari masih berpotensi mencemari lingkungan.
Namun di balik angka-angka yang mengkhawatirkan itu, ada kisah-kisah kecil yang memberi harapan.
Seorang ibu rumah tangga di Bali kini mulai memisahkan sampah organik untuk dijadikan kompos. Seorang petugas kebersihan pasar di Bandung belajar bahwa sampah sayur dapat bernilai ekonomi jika diolah dengan benar. Di stasiun kereta, penumpang mulai menemukan tempat pemilahan sampah yang tidak lagi sekadar pajangan. Bahkan di desa-desa, bank sampah tumbuh menjadi ruang sosial baru tempat warga bertemu, berbagi, sekaligus memperoleh tambahan penghasilan.
Perubahan perilaku memang tidak terjadi dalam semalam. Tetapi ketika masyarakat mulai merasa memiliki persoalan lingkungan, transformasi menjadi mungkin.
Di Denpasar dan Badung, misalnya, tingkat pemilahan sampah disebut telah melampaui 60 persen. Angka itu bukan sekadar statistik administratif. Ia menunjukkan sesuatu yang lebih penting: masyarakat mulai memahami bahwa sampah bukan benda mati yang selesai setelah dibuang dari rumah.
Kesadaran inilah yang perlahan mengubah wajah pengelolaan lingkungan di Indonesia.
Dulu, paradigma “kumpul-angkut-buang” dianggap cukup. Sampah diambil dari rumah, dipindahkan ke truk, lalu ditimbun di TPA. Kini, pendekatan itu mulai ditinggalkan. Pemerintah mendorong pemilahan dari sumber, pengolahan berbasis masyarakat, ekonomi sirkular, hingga teknologi pengolah sampah menjadi energi.
Tetapi teknologi saja tidak akan cukup tanpa keterlibatan manusia.
Karena pada akhirnya, lingkungan yang lestari dibangun dari keputusan-keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari: membawa tas belanja sendiri, memilah sampah dapur, menanam pohon di halaman, atau tidak membuang plastik ke sungai. Tindakan kecil yang jika dilakukan jutaan orang dapat menjadi kekuatan besar.
Itulah sebabnya desa menjadi penting.
Di desa, hubungan manusia dengan alam masih terasa dekat. Orang mengenal aliran sungainya, mengingat musim panen, dan memahami bahwa tanah yang rusak akan memengaruhi kehidupan mereka sendiri. Ketika desa bergerak menjaga lingkungan, sesungguhnya mereka sedang menjaga masa depan pangan, kesehatan, dan ekonomi masyarakatnya.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai menunjukkan ketegasan terhadap pelanggaran lingkungan. Praktik open dumping didorong untuk dihentikan, sementara pelanggaran tata kelola sampah mendapat perhatian serius melalui penegakan hukum.
Langkah itu penting agar masyarakat melihat bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar imbauan moral, melainkan kebutuhan bersama yang harus dijalankan secara konsisten.
Tahun 2026 mungkin akan diingat bukan hanya sebagai tahun ketika Indonesia berbicara tentang sampah, tetapi ketika semakin banyak orang mulai memahami bahwa lingkungan hidup bukan isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Ia ada di air yang diminum anak-anak setiap pagi.
Ia ada di udara yang dihirup para lansia saat berjalan menuju pasar.
Ia ada di sawah, laut, dan hutan yang menopang kehidupan jutaan orang.
Dan perubahan besar itu, rupanya, dimulai dari hal paling sederhana: kemauan untuk peduli.
Depok, 31 Januari 2026
Penulis: Yulianti Fajar Wulandari, Pranata Humas Ahli Pertama pada Biro Humas KLH/BPLH