Logo

Dari Mangrove hingga Cerita Warga, Aksi Iklim Dimulai dari Akar Rumput

05 Juni 2026 275 Dilihat
Dari Mangrove hingga Cerita Warga, Aksi Iklim Dimulai dari Akar Rumput

 

Makassar, 5 Juni 2026 - Perubahan iklim bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dampaknya kini dirasakan langsung, mulai dari kawasan pesisir yang rentan abrasi hingga persoalan sampah yang terus menjadi tantangan di lingkungan permukiman. Sejalan dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menekankan bahwa aksi iklim harus diwujudkan melalui langkah-langkah nyata yang dimulai dari tingkat tapak dan melibatkan masyarakat secara luas

 Direktur Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim KLH/BPLH, Irawan Asaad, mengatakan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi pengingat bahwa aksi iklim membutuhkan keterlibatan semua pihak dan harus tumbuh dari tingkat akar rumput.

 "Momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini adalah pengingat bahwa gerakan kita harus inklusif dan menyentuh akar rumput demi mewujudkan komitmen iklim Indonesia," ujar Irawan pada forum Cengkrama Iklim di Universitas Hasanuddin (Unhas).

 Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah pentingnya menjaga ekosistem mangrove. Environmental Technical Advisor Yayasan Hutan Biru, Yusran Nurdin Massa, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sekitar 23 persen mangrove dunia yang berperan penting melindungi pesisir sekaligus menyerap karbon. Namun, keberadaan mangrove masih menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan dan ekspansi permukiman.

 Menurutnya, keberhasilan menjaga mangrove tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pohon yang ditanam, tetapi juga oleh kesadaran masyarakat untuk melindunginya.

 "Yang paling utama bukan hanya menanam mangrove di pantai, tetapi menanam kesadaran tentang pentingnya mangrove di kepala masyarakat," kata Yusran.

 Selain membahas ekosistem pesisir, forum ini juga menyoroti pentingnya peran komunikasi dalam memperluas dampak aksi iklim. Pengelola Media Pela Kita, Komarudin Aziz, menilai generasi muda memiliki posisi strategis untuk menerjemahkan isu perubahan iklim yang sering dianggap rumit menjadi cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

 Melalui dokumentasi dan publikasi berbasis fakta, berbagai praktik baik yang lahir dari desa, pesisir, maupun komunitas lokal dapat menjangkau lebih banyak orang dan menginspirasi gerakan serupa di berbagai daerah.

 Berbagai pengalaman yang dibagikan dalam forum tersebut menunjukkan bahwa aksi iklim tidak selalu dimulai dari langkah besar. Menjaga mangrove, mengurangi sampah, hingga menyebarkan cerita-cerita baik dari masyarakat dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas. Karena pada akhirnya, menjaga masa depan iklim adalah kerja bersama yang dimulai dari lingkungan terdekat kita.

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image