Pagi itu, langit Surabaya tampak cerah setelah beberapa hari hujan mengguyur Kota Pahlawan. Di tengah suasana yang masih basah oleh sisa gerimis malam, puluhan peserta Zero Waste Academy dari berbagai daerah berkumpul untuk melihat langsung bagaimana Surabaya mengelola sampahnya. Tujuan mereka adalah Pusat Daur Ulang (PDU) Jambangan—sebuah tempat yang setiap hari bekerja diam-diam menjaga kota tetap bernapas.
Begitu tiba di lokasi, suara mesin pencacah terdengar bersahutan. Para pekerja berdiri di sisi conveyor berjalan, memilah sampah yang baru datang dari berbagai sudut kota. Kantong plastik dibuka satu per satu. Botol, kaca, logam, hingga sisa makanan dipisahkan dengan tangan. Di tempat inilah, sesuatu yang dianggap tidak berguna diubah kembali menjadi bernilai bagi lingkungan dan masyarakat.
Sebagai penyuluh lingkungan hidup, saya melihat pengelolaan sampah bukan hanya urusan teknis. Di balik tumpukan sampah, ada manusia-manusia yang bekerja menjaga kualitas hidup kota. Ada para pekerja yang memulai aktivitas sejak pagi, memastikan sampah tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir.
Hadi, pengawas PDU Jambangan, mengatakan volume sampah dapat meningkat drastis menjelang Lebaran. Warga biasanya membersihkan rumah sebelum mudik sehingga sampah yang masuk bisa mencapai 8,5 ton per hari.
Di tengah jumlah yang terus bertambah itu, para pekerja tetap menjalankan proses pemilahan dengan sabar. Sampah organik dipisahkan untuk diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik seperti plastik dan aluminium dikumpulkan untuk didaur ulang.
Yang menarik, PDU Jambangan menggunakan sistem aerasi dalam proses pengomposannya. Metode ini memungkinkan udara mengalir ke dalam tumpukan sampah organik sehingga proses pembusukan berlangsung lebih cepat dan tidak menghasilkan bau menyengat. Dengan sistem ini, kompos dapat dihasilkan hanya dalam waktu sekitar sepuluh hari.
Manfaatnya tidak hanya bagi kebersihan kota. Sistem ini juga membantu mengurangi pembentukan gas metana dari sampah organik—gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Artinya, pengelolaan sampah yang baik bukan sekadar membuat lingkungan terlihat bersih, tetapi juga ikut menjaga kualitas udara dan masa depan bumi.
Namun, teknologi bukan satu-satunya kunci keberhasilan. Tantangan terbesar justru terletak pada perilaku masyarakat.
“Kalau warga sudah milah, jangan dicampur lagi waktu pengangkutan,” ujar Hadi.
Kalimat sederhana itu menggambarkan pentingnya peran masyarakat dalam pengelolaan sampah. Kebiasaan memilah sampah dari rumah menjadi langkah kecil yang berdampak besar bagi lingkungan. Dari rumah tangga, perubahan itu dapat tumbuh menjadi budaya bersama.
Kunjungan ke PDU Jambangan memberi pelajaran penting bahwa pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas atau mesin modern, tetapi juga pada gotong royong dan kesadaran kolektif. Para peserta yang datang dari berbagai daerah pun melihat bagaimana kolaborasi warga, pemerintah, dan pekerja lapangan mampu menciptakan sistem yang berjalan efektif.
Di tengah persoalan sampah perkotaan yang semakin kompleks, PDU Jambangan menghadirkan harapan: bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Dari tangan-tangan para pekerja, tumpukan sampah perlahan diubah menjadi sesuatu yang lebih bernilai—bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masa depan kota dan generasi yang akan datang.
Surabaya, 20 Mei 2026
Penulis: Penulis, Yustinus Ade Stirman
Penyuluh Lingkungan Ahli Muda pada Pusdal LH Jawa