Logo

Hari Ozon Sedunia 2026: Menjaga Perisai Tak Kasatmata untuk Melindungi Kehidupan di Bumi

16 September 2026 167 Dilihat
Hari Ozon Sedunia 2026: Menjaga Perisai Tak Kasatmata untuk Melindungi Kehidupan di Bumi

Jauh di atas kepala kita, ada lapisan gas yang tidak terlihat tetapi setiap hari membantu melindungi kehidupan dari radiasi ultraviolet Matahari. Lapisan ozon mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, tetapi keberadaannya berkaitan dengan kesehatan manusia, pertumbuhan tanaman, kehidupan di perairan, hingga cara kita menggunakan dan merawat peralatan pendingin.

Peringatan Hari Ozon Internasional yang jatuh pada tanggal 16 September 2026 ini, menjadi momentum untuk mengenali kembali peran penting lapisan ozon sekaligus memahami apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk ikut menjaganya.

Lapisan Ozon, Perisai Tipis yang Menjaga Bumi

Bayangkan sebuah perisai yang sangat tipis. Jika seluruh ozon di atmosfer dikumpulkan pada tekanan permukaan laut, ketebalannya rata-rata hanya sekitar 3 milimeter. Namun, lapisan yang tampak begitu tipis tersebut memiliki fungsi yang sangat besar.

Ozon merupakan molekul gas yang tersusun atas tiga atom oksigen atau O₃. Sekitar 90 persen ozon berada di stratosfer dan dikenal sebagai good ozone. Di lapisan inilah ozon membantu melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet. Sementara itu, sekitar 10 persen berada di troposfer sebagai bad ozone, yang terbentuk akibat proses pencemaran udara.

Lapisan ozon stratosfer terutama berfungsi menyaring sebagian besar radiasi ultraviolet B (UV-B) yang berbahaya. Kita tidak dapat melihat lapisan ini dengan mata telanjang. Namun, setiap hari kehidupan di permukaan Bumi berlangsung di bawah perlindungannya.

Mengapa Lapisan Ozon Penting bagi Manusia?

Sinar ultraviolet merupakan bentuk energi radiasi yang dipancarkan Matahari. Intensitas radiasi ultraviolet yang mencapai permukaan Bumi dapat diukur menggunakan UV Index, dengan skala mulai dari 0 atau rendah hingga 11+ atau ekstrem.

Ketika lapisan ozon menipis, lebih banyak radiasi UV dapat mencapai permukaan Bumi. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan manusia.

Paparan UV-B yang meningkat dapat menyebabkan kanker kulit, mempercepat penuaan kulit, serta merusak kornea dan lensa mata. Dampaknya juga dapat dirasakan oleh makhluk hidup lainnya.

Pada tanaman, paparan UV-B yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan karena mengganggu distribusi nutrien. Gangguan tersebut dapat berdampak pada keberlangsungan spesies tanaman dan persediaan pangan.

Sementara di ekosistem perairan, peningkatan UV-B dilaporkan dapat mengurangi produksi fitoplankton sebesar 6–12 persen. Radiasi tersebut juga dapat mengganggu perkembangan awal ikan, udang, kepiting, amfibi, dan organisme lainnya. Dengan demikian, melindungi lapisan ozon berarti turut menjaga kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem.

Apa yang Menyebabkan Lapisan Ozon Menipis?

Lapisan ozon secara alami terus mengalami proses pembentukan dan penguraian. Masalah muncul ketika keseimbangan tersebut terganggu. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan bahan kimia buatan manusia yang mengandung klorin dan/atau bromin, yang dikenal sebagai Bahan Perusak Ozon (BPO). Senyawa halokarbon tertentu dapat bertahan sangat lama di atmosfer, bahkan selama 20–120 tahun, sebelum mencapai stratosfer.

Di stratosfer, energi ultraviolet dapat memecah molekul tertentu dan melepaskan atom klorin. Atom tersebut kemudian dapat bereaksi dengan ozon dan memicu rangkaian reaksi kimia yang menguraikan molekul ozon. Klorin yang dilepaskan kembali dapat mengulangi siklus tersebut.

BPO pernah digunakan dalam berbagai sektor, antara lain refrigerasi dan tata udara, aerosol, pelarut, fumigasi, pembuatan foam, serta pemadam api. Artinya, persoalan lapisan ozon tidak hanya berada di laboratorium atau di ruang konferensi internasional. Ia juga memiliki kaitan dengan teknologi yang pernah digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Bahan Perusak Ozon Menuju Teknologi yang Lebih Aman

Perlindungan lapisan ozon tidak berarti menghentikan kebutuhan terhadap teknologi pendingin atau berbagai produk yang sebelumnya menggunakan BPO. Yang dilakukan adalah mendorong alih teknologi dan penggunaan bahan alternatif.

Indonesia menjalankan strategi penghapusan HCFC melalui pengembangan regulasi dan kebijakan, alih teknologi pada sektor foam, refrigerasi dan AC, serta peningkatan kapasitas dan kesadaran masyarakat.

Dalam memilih bahan pengganti HCFC, aspek perlindungan ozon dan iklim juga perlu diperhatikan secara bersamaan. Booklet KLH/BPLH memperkenalkan prinsip BROCCOLI — Bebas Bromin, Chlorin dan Pro-Climate, yaitu penggunaan alternatif yang tidak memiliki nilai Ozone Depletion Potential (ODP) dengan tetap mempertimbangkan Global Warming Potential (GWP) yang rendah.

Dengan pendekatan tersebut, perkembangan teknologi diharapkan tidak hanya memberikan kenyamanan bagi manusia, tetapi juga semakin memperhatikan keberlanjutan atmosfer.

Indonesia dan Komitmen Melindungi Lapisan Ozon

Upaya melindungi lapisan ozon merupakan kerja bersama masyarakat internasional. Konvensi Wina pada 1985 menjadi kerangka kerja internasional untuk melindungi lapisan ozon melalui penelitian, observasi, dan pertukaran informasi. Selanjutnya, Protokol Montreal ditetapkan pada 1987 untuk mengatur langkah negara-negara pihak dalam membatasi produksi dan konsumsi Bahan Perusak Ozon.

Indonesia turut meratifikasi Konvensi Wina dan Protokol Montreal beserta amendemennya. Berbagai langkah kemudian dilakukan, termasuk pengendalian dan penghapusan penggunaan sejumlah BPO. Salah satunya adalah larangan impor dan penggunaan HCFC-141b di Indonesia sejak 1 Januari 2022. Indonesia juga telah melarang impor seluruh jenis CFC serta beberapa BPO lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan lapisan ozon membutuhkan perubahan yang berlangsung secara bertahap—mulai dari kebijakan, teknologi, industri, hingga pilihan masyarakat.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?

Menjaga lapisan ozon mungkin terdengar seperti pekerjaan besar yang hanya dapat dilakukan pemerintah, industri, ilmuwan, atau teknisi. Padahal, masyarakat juga memiliki peran.

1. Pilih produk non-BPO

Gunakan produk yang tidak mengandung Bahan Perusak Ozon. Masyarakat dapat memperhatikan penanda produk non-BPO ketika memilih produk yang relevan.

2. Rawat AC dengan teknisi yang kompeten

Perawatan sistem pendingin yang tepat membantu mencegah pelepasan refrigeran ke atmosfer. Pilih teknisi RAC yang memiliki kompetensi dan sertifikasi.

3. Lindungi tubuh dari radiasi UV

Perlindungan lapisan ozon tetap perlu disertai perlindungan diri. Gunakan tabir surya dengan SPF 15 atau lebih pada kulit yang tidak terlindungi. Kenakan pakaian yang menutupi kulit, gunakan topi bertepi lebar dan kacamata yang memiliki perlindungan terhadap UV. Jika memungkinkan, kurangi aktivitas di luar ruangan pada sekitar pukul 10.00–15.00, ketika Matahari sangat terik.

Ozon Aman, Kita Nyaman

Lapisan ozon mungkin berada puluhan kilometer di atas permukaan Bumi. Ia terlalu jauh untuk kita lihat dan terlalu tipis untuk kita sadari keberadaannya. Namun, dampaknya terasa sangat dekat.

Pada kulit yang terlindungi dari radiasi UV. Pada mata yang terlindungi. Pada tanaman yang tumbuh. Pada fitoplankton yang menjadi bagian penting rantai makanan di perairan. Dan pada udara sejuk yang kita nikmati dari sebuah sistem pendingin yang dirawat dengan benar.

Itulah mengapa Hari Ozon Sedunia 2026 bukan hanya tentang memperingati sebuah perjanjian internasional atau mengenal istilah BPO. Ini adalah pengingat bahwa atmosfer merupakan bagian dari ruang hidup kita.

Menjaganya membutuhkan ilmu pengetahuan, kebijakan, teknologi, industri, teknisi, dan tentu saja pilihan sehari-hari masyarakat. Sebab, meski kita tidak dapat melihat lapisan ozon, kehidupan di Bumi bergantung pada perlindungannya.

Ozon aman, kita nyaman.

Unduh Booklet Kenali dan Lindungi Ozone disini.

Depok, 16 September 2026

Penulis: Yulianti Fajar Wulandari, Biro Humas KLH/BPLH

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image