Logo

Hentikan Sampah Plastik! Suara dari Purnabakti Lingkungan

06 Juli 2025 158 Dilihat
Hentikan Sampah Plastik! Suara dari Purnabakti Lingkungan

Serpong - Perkumpulan Purnabakti Lingkungan Hidup (P2LH) kembali mengingatkan kita akan urgensi isu sampah plastik melalui sebuah webinar istimewa pada Minggu (6/7). Tidak hanya nostalgia, acara ini menjadi panggung bagi para tokoh dan praktisi lingkungan untuk bersuara keras tentang darurat yang tengah melanda bangsa ini.

Mengusung tajuk "Hentikan Sampah Plastik", webinar ini menyajikan diskusi penuh semangat dan solusi nyata dari para mantan pejabat dan aktivis lingkungan. Ada nama-nama yang tak asing lagi, seperti Arief Yuwono, Sudaryono, Aboe Yuwono, Ari Djukardi, hingga Rachmat Witoelar—Menteri Lingkungan Hidup periode 2004–2009—yang memberikan pandangan tajam tentang tantangan dan langkah konkret yang harus segera diambil.

Rachmat Witoelar menegaskan bahwa plastik adalah momok bagi lingkungan global karena sifatnya yang hampir tak terurai. Ia menegaskan perlunya Indonesia berani menghentikan produksi plastik non-degradable dan memperkuat kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR), sebagai langkah tegas mengendalikan limbah plastik dari sumbernya.

Diskusi ini juga menghadirkan para narasumber seperti Sri Hudyastuti, praktisi sampah yang menyoroti perkembangan positif di tingkat akar rumput—kesadaran masyarakat mulai meningkat, terutama dalam memilah limbah organik dan B3. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan struktural masih membayangi upaya tersebut.

Sementara itu, Sudirman mengingatkan bahwa meskipun kebijakan sudah banyak dirumuskan, implementasinya sering terhambat budaya konsumtif dan lemahnya komitmen di tingkat daerah. Ia mengingatkan pula bahwa gaya hidup instan dan industri plastik sekali pakai turut memperparah kerusakan lingkungan, termasuk munculnya mikroplastik yang mengancam rantai makanan.

Dari sisi pemerintah, Agus Rusly Direktur Pengurangan Sampah dan Perkembangan Ekonomi Sirkular KLH/BPLH, menekankan pentingnya pengurangan sampah dari sumber dengan praktik reuse dan inovasi seperti plastik biodegradable. Ia mengakui bahwa efektivitas bahan alternatif ini masih perlu dikaji lebih dalam. Ia juga mengajak kolaborasi lintas kementerian—antara KLH/BPLH dan PUPR—untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Pada akhir diskusi, Tuti Mintarsih sebagai moderator, menegaskan satu pesan penting bahwa pengelolaan sampah plastik tidak bisa hanya tanggung jawab pemerintah. Dibutuhkan peran aktif masyarakat dan dunia usaha, penguatan regulasi, serta komitmen bersama terhadap ekonomi sirkular.

Para purnabakti diharapkan tetap peduli dan berkontribusi, sesuai dengan cara masing-masing, demi menjaga bumi agar tetap layak dihuni oleh generasi mendatang. (Yus Ade, Pusdal LH Jawa; Editor: YFW)

Galeri Foto

Additional image
Additional image