Awan mulai menebal. Aroma tanah basah perlahan muncul dari halaman dan tepian jalan. Musim hujan segera datang. Bagi sebagian orang, hujan adalah kabar yang ditunggu setelah hari-hari panas. Namun bagi warga yang tinggal di kawasan rawan banjir, suara hujan sering membawa kecemasan: apakah sungai kembali meluap, apakah air akan masuk rumah, dan apakah jalan di depan rumah kembali berubah menjadi genangan?
Setiap kali banjir datang, respons kita hampir selalu serupa. Pompa dinyalakan, saluran dibersihkan, sungai dikeruk, tanggul diperkuat, dan warga dievakuasi. Setelah air surut, pekerjaan dianggap selesai. Padahal beberapa bulan atau tahun kemudian, persoalan yang sama kembali terjadi.
Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: mengapa kita terus sibuk menangani banjir, tetapi banjir tetap berulang?
Banjir sesungguhnya bukan hanya persoalan air yang terlalu banyak. Ia dapat menjadi pesan ekologis tentang sesuatu yang berubah dalam hubungan manusia dengan alam. Ketika daerah resapan berkurang, tutupan lahan berubah, ruang sungai menyempit, lahan basah menghilang, dan limpasan permukaan meningkat, alam sedang menunjukkan akibat dari perubahan tersebut.
Masalahnya, kita sering lebih cepat merespons gejala daripada membaca pesannya.
Dari Jebakan Teknis ke Diagnosis Ekologis
Bayangkan sebuah kota sebagai pasien. Ketika banjir terjadi, genangan adalah gejalanya. Seorang dokter tidak cukup melihat gejala lalu langsung memberikan obat. Ia perlu memeriksa kondisi pasien, membaca hasil pemeriksaan, mendengarkan keluhan, dan mencari penyebab sebelum menentukan terapi.
Begitu pula dengan banjir. Kita membutuhkan “dokter lingkungan” yang mampu membaca gejala sekaligus mendiagnosis penyebabnya: perubahan tutupan lahan, hilangnya daerah resapan, kondisi daerah aliran sungai, perubahan tata ruang, hingga pengaruh perubahan iklim dan penurunan muka tanah.
Dari diagnosis itulah tindakan ditentukan. Pompa, drainase, tanggul, kolam retensi, sumur resapan, dan infrastruktur pengendali banjir tetap diperlukan. Namun jika akar masalahnya adalah hilangnya ruang air, maka pemulihan ruang tersebut harus menjadi bagian dari solusinya. Jika sungai kehilangan ruang ekologis, fungsi tersebut perlu dipulihkan.
Karena itu, pengelolaan banjir perlu bergerak dari sekadar memetakan lokasi genangan menuju pemetaan sumber dan penyebabnya. Kita perlu mengetahui dari mana limpasan berasal, kawasan resapan mana yang hilang, bagaimana perubahan tutupan lahan memengaruhi aliran air, dan mengapa lokasi tertentu berulang kali mengalami banjir.
Solusinya juga harus mengikuti diagnosis: melindungi kawasan resapan dan sempadan sungai, memperluas ruang terbuka hijau dan ruang retensi air, meningkatkan permukaan yang dapat menyerap air, serta memastikan tata ruang mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Dari Shallow Work ke Deep Work
Konsep shallow work dan deep work yang diperkenalkan Cal Newport menarik dipinjam sebagai metafora. Shallow work menggambarkan pekerjaan rutin dan responsif, sedangkan deep work membutuhkan konsentrasi untuk memahami persoalan secara lebih mendalam.
Dalam pengelolaan banjir, kita sering berada pada wilayah shallow work: air datang, pompa dinyalakan; sungai meluap, dikeruk; tanggul terancam, diperkuat. Semua itu penting, terutama dalam keadaan darurat. Tetapi pekerjaan mendalam mengharuskan kita bertanya: mengapa kota ini terus mengalami banjir?
Pertanyaan tersebut menuntut data, penelitian, pengamatan lanskap, pengalaman masyarakat, dan koordinasi lintas wilayah. Sebab air tidak mengenal batas administrasi. Apa yang terjadi di hulu dapat menentukan kondisi di hilir.
Karena itu, keberhasilan pengelolaan banjir semestinya tidak hanya diukur dari seberapa cepat air surut. Kita juga perlu melihat apakah daerah resapan bertambah, limpasan berkurang, ruang ekologis sungai terjaga, dan kejadian banjir berulang dapat ditekan.
Di sinilah komunikasi lingkungan memiliki peran strategis. Data ekologis tidak boleh berhenti sebagai angka, peta, atau dokumen teknis. Ia perlu diterjemahkan menjadi bahasa yang dipahami masyarakat: apa yang terjadi, mengapa terjadi, siapa yang terdampak, dan apa yang dapat dilakukan bersama.
Komunikasi lingkungan bukan sekadar menyampaikan pesan tentang lingkungan kepada manusia. Ia juga merupakan upaya membaca komunikasi alam kepada manusia.
Banjir, kekeringan, longsor, pencemaran, hilangnya mata air, meningkatnya suhu, dan perubahan ekosistem adalah bahasa alam. Tugas kita adalah membaca, menerjemahkan, dan mengubah pesan tersebut menjadi pengetahuan, kebijakan, dan tindakan.
Kita membutuhkan teknologi untuk menghadapi banjir, tetapi juga kemampuan membaca sebelum bertindak. Kita perlu bekerja cepat ketika air datang, sekaligus bekerja mendalam agar penyebabnya tidak terus berulang.
Sebab, mungkin banjir bukan sekadar air yang datang terlalu banyak. Ia adalah pesan bahwa hubungan manusia dengan alam sedang tidak seimbang.
Bukan karena alam tidak memiliki bahasa, melainkan karena kita terlalu lama lupa cara mendengarnya.
Surabaya, 6 Oktober 2026
Penulis: Yustinus Ade Stirman, Penyuluh Lingkungan pada Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa