Logo

Ketika Sungai Tak Lagi Mampu Menanggung Beban

30 April 2026 386 Dilihat
Ketika Sungai Tak Lagi Mampu Menanggung Beban

Pagi baru saja tiba di tepian Sungai Citarum ketika Siti, seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Bandung, menimba air di dekat rumahnya. Dulu, sungai itu menjadi tempat anak-anak bermain dan warga mencuci hasil panen. Kini airnya keruh, dipenuhi plastik dan limbah rumah tangga yang mengalir perlahan menuju hilir.

“Kalau hujan deras, sampahnya sampai menutup aliran,” katanya.

Apa yang dilihat Siti bukan hanya persoalan satu kampung. Sepanjang April 2026, isu pencemaran sungai dan pengelolaan sampah menjadi salah satu fokus utama pemberitaan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. Pemerintah menyoroti kondisi sungai-sungai yang semakin terbebani limbah domestik dan sampah plastik dari aktivitas masyarakat sehari-hari. 

Bagi warga yang tinggal di bantaran sungai, kerusakan lingkungan bukan lagi isu yang jauh. Dampaknya terasa langsung, banjir datang lebih sering, udara menjadi tidak nyaman, dan air yang dulu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari kini mulai diragukan kebersihannya.

Pemerintah mencatat sebagian besar pencemaran sungai berasal dari sampah rumah tangga yang tidak dikelola dengan baik. Karena itu, KLH/BPLH terus mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. 

Di Yogyakarta, sekelompok mahasiswa dan warga kampung mulai rutin membersihkan sungai kecil di dekat permukiman mereka setiap akhir pekan. Anak-anak ikut memungut sampah plastik sambil belajar mengenali limbah yang dapat didaur ulang.

Gerakan serupa tumbuh di berbagai daerah.

Di Bali, bank sampah desa membantu warga mengubah limbah rumah tangga menjadi sumber penghasilan tambahan. Di Jakarta, komunitas lingkungan mengedukasi masyarakat untuk berhenti membakar sampah karena asapnya dapat memperburuk kualitas udara. Sementara di kawasan pesisir, nelayan mulai mengumpulkan sampah plastik yang tersangkut di jaring sebelum kembali melaut. 

Langkah-langkah kecil itu membawa dampak nyata bagi masyarakat.

Ketika sungai tidak dipenuhi sampah, risiko banjir dapat berkurang. Ketika masyarakat berhenti membakar sampah sembarangan, udara menjadi lebih aman bagi anak-anak dan lansia. Dan ketika sampah dipilah dari rumah, jumlahnya yang berakhir di tempat pembuangan akhir juga ikut menurun.

April 2026 memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa hanya diselesaikan pemerintah. Pemulihan alam membutuhkan keterlibatan masyarakat luas.

Karena sesungguhnya, lingkungan hidup sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia ada pada air yang digunakan keluarga untuk memasak, udara yang dihirup anak-anak setiap pagi, dan sungai yang menentukan apakah sebuah kampung akan aman ketika musim hujan tiba.

Pemerintah kini terus mendorong transformasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dan pengurangan sampah dari sumbernya. Pendekatan lama “kumpul-angkut-buang” dinilai tidak lagi cukup menghadapi meningkatnya volume sampah nasional. 

Namun inti pesannya tetap sederhana: perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil manusia sehari-hari.

Dari keputusan membawa tas belanja sendiri.

Dari kebiasaan memilah sampah rumah tangga.

Dan dari pilihan untuk tidak membuang sampah ke sungai.

Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan alam, tetapi juga menjaga kualitas hidup manusia yang bergantung padanya setiap hari.

Depok, 30 April 2026

Penulis: Yulianti Fajar Wulandari, Pranata Humas Ahli Pertama pada Biro Humas KLH/BPLH

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image