Logo

Leader Lecture KLH/BPLH: Indonesia Emas 2045 Harus Bertumpu pada Supremasi Ekologi

04 Juni 2026 299 Dilihat
Leader Lecture KLH/BPLH: Indonesia Emas 2045 Harus Bertumpu pada Supremasi Ekologi

Jakarta, 4 Juni 2026 – Di tengah ambisi mewujudkan Indonesia Emas 2045, pertanyaan besar yang mengemuka bukan hanya bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga bagaimana memastikan pembangunan tersebut tetap menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Tanpa fondasi ekologi yang kuat, kemajuan yang dicapai hari ini berisiko menjadi beban bagi generasi mendatang.

Gagasan itu menjadi benang merah dalam kegiatan Leader Lecture bertema “Supremasi Ekologi dalam Pembangunan Berkelanjutan” yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta. Forum ini menghadirkan Guru Besar IPB University, Prof. Rokhmin Dahuri, untuk berbagi pandangan mengenai arah pembangunan Indonesia di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menilai forum semacam ini penting untuk memperkaya perspektif dan memperkuat kapasitas jajaran KLH/BPLH dalam menjawab tantangan pembangunan yang terus berkembang.

"Saya mengapresiasi terselenggaranya Leader Lecture ini sebagai ruang penguatan wawasan bagi jajaran KLH/BPLH. Forum ini penting untuk memastikan pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan dan keberlanjutan hidup masyarakat," ujar Menteri Jumhur.

Sementara itu, Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi negara maju. Dengan jumlah penduduk lebih dari 286,7 juta jiwa, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, serta posisi geografis yang strategis, Indonesia berada pada posisi yang menguntungkan dalam percaturan ekonomi global. Bahkan sekitar 45 persen perdagangan barang dunia dengan nilai mencapai USD15 triliun per tahun melintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

Namun di balik potensi tersebut, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Mulai dari kemiskinan, dominasi pekerja sektor informal, dan deindustrialisasi, hingga tekanan yang terus meningkat terhadap lingkungan hidup dan sumber daya alam. Pada saat yang sama, dunia juga tengah berhadapan dengan ancaman perubahan iklim, polusi, serta hilangnya keanekaragaman hayati.

"Indonesia memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat besar. Namun potensi itu hanya akan menjadi kekuatan apabila dikelola secara bijak, berkelanjutan, dan tidak melampaui daya dukung lingkungan," kata Prof. Rokhmin.

Menurutnya, pembangunan ke depan tidak lagi dapat bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam semata. Dibutuhkan pendekatan baru yang menempatkan lingkungan hidup sebagai fondasi pembangunan. Inilah yang disebut sebagai supremasi ekologi, sebuah prinsip yang memastikan pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan infrastruktur, dan pemanfaatan sumber daya alam berjalan selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Dalam diskusi tersebut juga mengemuka pentingnya mempercepat transformasi menuju ekonomi hijau melalui pengembangan industri rendah karbon, peningkatan efisiensi energi dan sumber daya alam, pengurangan emisi gas rumah kaca, penguatan transportasi ramah lingkungan, serta pengembangan investasi berkelanjutan.

Bagi KLH/BPLH, supremasi ekologi bukan sekadar konsep, melainkan arah pembangunan yang perlu terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan. Melalui forum seperti Leader Lecture, KLH/BPLH berharap semakin banyak gagasan, inovasi, dan kolaborasi yang lahir untuk mendukung pembangunan Indonesia yang maju sekaligus berkelanjutan.

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image
Additional image
Additional image