Logo

Mengejar Langit Biru Tropodo: Cerobong IKM Tahu di Persimpangan Perubahan

14 Juni 2025 214 Dilihat
Mengejar Langit Biru Tropodo: Cerobong IKM Tahu di Persimpangan Perubahan

Sidoarjo, 14 Juni 2025 — Asap tipis yang mengepul dari puluhan cerobong di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mungkin tampak biasa bagi mata yang sudah terbiasa. Namun, bagi pemerintah dan pemerhati lingkungan, kepulan itu menyimpan persoalan serius yang tak bisa lagi diabaikan. Di balik semangat kerja para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) tahu di Tropodo, tersembunyi tantangan lingkungan yang mendesak untuk diurai.

Selama puluhan tahun, Tropodo dikenal sebagai sentra IKM tahu rumahan. Lebih dari 40 unit usaha menggantungkan penghidupan dari produksi tahu yang didistribusikan ke berbagai daerah. Namun, tekanan ekonomi dan kenaikan biaya produksi membuat sebagian pelaku usaha mencari alternatif bahan bakar yang lebih murah. Limbah plastik pun digunakan sebagai substitusi, karena mudah diperoleh dan efisien secara biaya. Sayangnya, penggunaan bahan bakar ini, terutama dengan tungku pembakaran yang tidak memenuhi spesifikasi teknis, menghasilkan emisi berbahaya yang mencemari udara dan lingkungan sekitar.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) yang turun langsung ke lapangan mengungkap kondisi yang memprihatinkan. Udara yang dihirup warga di sekitar lokasi produksi berada dalam kategori tidak sehat, bahkan dalam radius setengah kilometer. Asap dari cerobong-cerobong kecil di belakang rumah warga melepaskan karbon monoksida dan partikel halus tanpa filtrasi memadai, yang secara perlahan mengganggu kualitas udara.

Kondisi air pun menunjukkan hasil yang serupa. Sungai kecil yang dulu jernih kini tercemar limbah cair dengan kadar pencemar seperti BOD, COD, dan TSS yang jauh melebihi ambang batas. Keasaman air bahkan mendekati pH 4, setara dengan cuka. Dalam uji laboratorium, ditemukan juga jejak senyawa seperti dioksin dan furan — dua zat berbahaya yang dapat muncul dari proses pembakaran plastik yang tidak sempurna. Senyawa ini terdeteksi pada sampel tanah, telur ayam kampung, dan biota tanah di sekitar lokasi pembakaran, yang diduga berasal dari tungku-tungku tak standar yang digunakan oleh sebagian pelaku usaha.

Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara, Nixon Pakpahan, menyatakan bahwa kondisi ini merupakan persoalan yang tidak boleh dibiarkan.

“Ini bukan hanya persoalan lingkungan, tapi juga menyangkut kesehatan masyarakat dan masa depan generasi Tropodo. Emisi yang dihasilkan dari pembakaran yang tidak sesuai standar bisa sangat berbahaya jika terus dibiarkan,” tegasnya.

Namun, pemerintah tidak datang hanya dengan teguran. KLH/BPLH membawa data, solusi, serta dukungan untuk perubahan. Komitmen penanganan juga datang dari pemerintah daerah. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan bahwa tindakan tegas akan diberikan terhadap pelanggaran penggunaan plastik sebagai bahan bakar.

“Mulai hari ini, akan kami tindak tegas,” ujarnya lantang di hadapan awak media dan warga.

Meski demikian, pendekatan yang diambil bukan semata penegakan hukum. Pemerintah menyiapkan langkah jangka panjang untuk transformasi ke energi bersih. Para pelaku IKM didorong untuk menggunakan sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan seperti wood chips, RDF, dan biogas. Komitmen ini tidak datang tiba-tiba — pada 14 Mei 2025 lalu, para pelaku industri tahu di Tropodo telah menandatangani kesepakatan untuk menghentikan penggunaan plastik sebagai bahan bakar dan mendukung upaya perbaikan lingkungan.

Akar persoalan ini memang kompleks. Di satu sisi, pelaku IKM menghadapi tekanan biaya. Di sisi lain, pencemaran yang terjadi akibat praktik pembakaran plastik di tungku tak layak tidak bisa diabaikan. KLH/BPLH menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif: pemerintah pusat dan daerah perlu bersinergi dalam menyediakan fasilitas pengolahan limbah terpadu, insentif energi bersih, serta keterlibatan sektor swasta melalui program tanggung jawab perusahaan atau corporate social responsibilty (CSR) untuk ikut serta membantu pemulihan kualitas tanah dan air.

Deputi Penegakan Hukum, Irjen. Pol. Rizal Irawan, menegaskan dukungannya terhadap langkah-langkah yang sedang dijalankan.

“Kami akan selalu memastikan penanganan terhadap kerusakan lingkungan, baik itu udara maupun air seperti yang terjadi di industri tahu ini. Kami sangat mendukung langkah-langkah pemerintah daerah dalam penertiban dan pelarangan penggunaan plastik sebagai bahan bakar industri,” ujarnya.

Kisah Tropodo adalah potret tantangan yang dihadapi banyak daerah di Indonesia: antara menjaga ekonomi rakyat tetap bergerak dan memastikan lingkungan tidak menjadi korban. Jika perubahan bisa dimulai dari cerobong kecil di desa ini, maka harapan menuju langit biru Indonesia bukan sekadar wacana — melainkan kenyataan yang sedang tumbuh dari dapur-dapur IKM.

 

Penulis: Anton Rumandi
Editor: Romi Setiawan

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image