Bandung, 11 Juli 2026 – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa keadilan iklim harus menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan Asia-Afrika yang berkelanjutan. Menurutnya, salah satu langkah penting untuk mewujudkan keadilan iklim adalah melalui gerakan tobat ekologis, yaitu kesadaran manusia untuk memperbaiki hubungan dengan alam dan tidak mengulangi praktik-praktik yang merusak lingkungan. Hal tersebut disampaikan Menteri Jumhur saat menjadi pembicara dalam Forum Asia Africa Festival 2026 bertema “Unity in Diversity, Rising in Harmony” di Bandung.
Menteri Jumhur mengajak masyarakat Asia-Afrika memperkuat solidaritas baru dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan. “Solidaritas yang dahulu memperjuangkan kemerdekaan kini harus berkembang menjadi solidaritas untuk ketahanan iklim, perlindungan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan”.
Menteri Jumhur menyampaikan bahwa Asia dan Afrika merupakan kawasan yang memiliki kekayaan sumber daya alam, keanekaragaman hayati, budaya, serta potensi generasi muda yang besar. Namun, pada saat yang sama, kedua kawasan juga berada di garis depan dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan berbagai tekanan lingkungan.
“Keberagaman bukan sekadar identitas kita; ia adalah kekuatan terbesar kita. Izinkan saya menambahkan satu refleksi penting: persatuan dalam keberagaman juga harus menjadi persatuan untuk keberlanjutan,” kata Menteri Jumhur.
Menurutnya, harmoni sejati tidak hanya dibangun melalui hubungan antar manusia, tetapi juga melalui hubungan yang seimbang antara manusia dan alam. Peradaban, budaya, serta kehidupan masyarakat selama ini tumbuh karena dukungan ekosistem yang sehat, seperti hutan yang terjaga, sungai yang bersih, laut yang lestari, dan keanekaragaman hayati yang kaya.
“Keharmonisan sejati tidak akan tercapai apabila manusia tidak hidup selaras dengan alam,” tegas Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur menjelaskan, kebijakan yang baik dan pengembangan teknologi hijau merupakan bagian penting dalam menghadapi krisis lingkungan. Namun, menurutnya, upaya tersebut tidak akan cukup tanpa perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam.
“Karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat Asia-Afrika untuk menghidupkan kembali semangat tobat ekologis,” terang Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur menambahkan, bahwa tobat ekologis bukan hanya tentang menyadari kesalahan manusia dalam mengeksploitasi alam secara berlebihan, tetapi juga menjadi komitmen untuk tidak mengulangi tindakan yang merusak lingkungan. Perwujudannya dilakukan melalui perubahan perilaku, gaya hidup yang bertanggung jawab, pembangunan yang memperhatikan daya dukung lingkungan, serta kebijakan yang menghadirkan keadilan bagi manusia dan alam.
“Bumi bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi, melainkan rumah bersama yang harus kita rawat,” tutur Menteri Jumhur.
Lebih lanjut, Menteri Jumhur menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi dunia saat ini tidak hanya terkait perubahan iklim, tetapi juga pencemaran lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi ekosistem, serta persoalan sampah dan polusi plastik yang mengancam kesehatan manusia dan keberlanjutan kehidupan.
“Jika dahulu para pemimpin Asia-Afrika bersatu memperjuangkan kemerdekaan bangsa-bangsa, maka generasi kita kini dipanggil untuk memperjuangkan sesuatu yang tidak kalah penting, yaitu masa depan bumi yang lestari,” ungkap Menteri Jumhur.
Untuk itu, Menteri Jumhur mendorong agar semangat Bandung Spirit terus berkembang menjadi Green Bandung Spirit, yakni semangat solidaritas dan kolaborasi baru untuk memperkuat aksi lingkungan dan memastikan keberlanjutan bagi generasi mendatang.
“Mari kita jadikan Asia Africa Festival bukan sekadar perayaan, tetapi juga gerakan bersama membangun masa depan yang hijau, damai, tangguh, dan berkelanjutan. Mari kita wariskan kepada generasi mendatang bukan hanya cerita tentang solidaritas Asia-Afrika, tetapi juga bumi yang tetap hijau, sungai yang tetap bersih, laut yang tetap lestari, dan budaya yang tetap hidup,” pungkas Menteri Jumhur.
Melalui semangat keadilan iklim, KLH/BPLH menegaskan pentingnya perubahan cara pandang manusia terhadap alam. Tobat ekologis menjadi langkah nyata untuk menyadari kesalahan, memperbaiki hubungan dengan lingkungan, dan memastikan kerusakan yang sama tidak kembali terulang demi masa depan bumi yang berkelanjutan.