Logo

Menteri Jumhur Soroti Dampak Psikologis Krisis Iklim terhadap Generasi Muda

01 Juli 2026 341 Dilihat
Menteri Jumhur Soroti Dampak Psikologis Krisis Iklim terhadap Generasi Muda

Jakarta, 1 Juli 2026 – Perubahan iklim tidak hanya memicu bencana dan kerusakan lingkungan, tetapi juga meninggalkan dampak yang semakin nyata terhadap kesehatan mental masyarakat. Oleh karena itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, menegaskan pentingnya membangun ketangguhan psikologis masyarakat sebagai bagian dari strategi menghadapi krisis iklim. Hal tersebut disampaikan saat menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-66 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) bertema “Menyehatkan Jiwa, Merawat Bumi: Psikologi untuk Masa Depan Berkelanjutan” di Kampus UI, Depok.

 Dalam orasi ilmiahnya, Menteri Jumhur menjelaskan bahwa keberhasilan menghadapi perubahan iklim tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, teknologi, maupun investasi, tetapi juga kesiapan psikologis masyarakat. Menurutnya, terdapat tiga fondasi yang perlu dibangun agar masyarakat mampu menjadi bagian dari solusi atas krisis lingkungan.

 Fondasi pertama adalah climate literacy atau literasi iklim, yakni kemampuan memahami hubungan antara aktivitas manusia dengan perubahan lingkungan, mengenali risiko yang dihadapi, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Menurut Menteri Jumhur, literasi iklim harus berkembang dari sekadar mengetahui menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli, hingga diwujudkan dalam tindakan nyata.

 Fondasi kedua adalah psychological resilience atau ketangguhan psikologis. Menteri Jumhur menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi maupun kerusakan lingkungan, tetapi juga memicu tekanan terhadap kesehatan mental masyarakat. Fenomena seperti eco-anxiety, climate anxiety, hingga ecological grief kini semakin banyak dirasakan, terutama oleh generasi muda.

 "Generasi muda merupakan kelompok yang paling banyak merasakan kecemasan tersebut. Di sinilah pentingnya membangun ketangguhan psikologis. Mampu beradaptasi, bangkit menghadapi tantangan, serta mengubah kecemasan menjadi tindakan positif. Mengubah kekhawatiran menjadi inovasi, mengubah tantangan menjadi kolaborasi, dan mengubah krisis menjadi momentum perubahan," ujar Menteri Jumhur.

 Fondasi ketiga adalah psychological ownership atau rasa memiliki terhadap lingkungan. Menurutnya, ketika masyarakat merasa sungai yang bersih, hutan yang lestari, udara yang sehat, laut yang bebas sampah, maupun ruang terbuka hijau merupakan bagian dari dirinya, kepedulian terhadap lingkungan akan tumbuh dari kesadaran, bukan semata-mata karena adanya aturan.

 "Saya percaya bahwa masa depan lingkungan Indonesia tidak hanya bergantung pada kuatnya regulasi, tetapi juga pada kuatnya rasa memiliki masyarakat terhadap alamnya," pungkas Menteri Jumhur.

 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image