SIARAN PERS
Nomor: SR.74/HUMAS/KLH-BPLH/4/2026
Banjarbaru, 20 April 2026 — Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, terus mendorong percepatan transformasi pengelolaan sampah nasional melalui penguatan pendekatan berbasis sumber di daerah. Provinsi Kalimantan Selatan menjadi salah satu fokus dalam upaya mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Menteri Hanif menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari hulu dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pemilahan dan pengurangan sampah. “Permasalahan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pola kumpul-angkut-buang. Kuncinya ada di hulu, yaitu pemilahan sejak dari rumah tangga agar beban pengelolaan dapat berkurang secara signifikan”.
Di Kota Banjarbaru, timbulan sampah mencapai sekitar 184 ton per hari, sementara yang terkelola baru sekitar 12 persen. Kondisi ini menunjukkan perlunya percepatan pengelolaan sampah berbasis sumber untuk menekan volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Menteri Hanif menekankan penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui gerakan Kelola dan Pilah Sampah untuk Banjarbaru Emas (KILAU EMAS) yang menargetkan pemilahan sampah secara masif di tingkat rumah tangga.
Dengan jumlah lebih dari 90 ribu kepala keluarga, pendekatan ini dinilai menjadi kunci dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat sekaligus meningkatkan efektivitas sistem pengelolaan sampah. “Jika pemilahan dilakukan secara konsisten di tingkat rumah tangga, volume sampah yang tidak terkelola dapat ditekan secara signifikan dan berdampak langsung pada kualitas lingkungan,” jelas Menteri Hanif pada acara Hari Jadi ke-27 Tahun Kota Banjarbaru.
Selain penguatan di tingkat masyarakat, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari optimalisasi TPS3R dan bank sampah, perluasan layanan pengangkutan, hingga penguatan peran sektor usaha termasuk hotel, restoran, dan kafe (HOREKA). Sistem monitoring dan evaluasi berbasis kinerja juga terus diperkuat untuk memastikan efektivitas implementasi di lapangan.
Dalam mendukung percepatan tersebut, Kalimantan Selatan memiliki potensi kolaborasi yang kuat, melibatkan perangkat daerah, 595 Ketua RT, ratusan penyuluh dan pendamping keluarga, serta dukungan perguruan tinggi melalui keterlibatan mahasiswa dalam program tematik lingkungan hidup.
Menteri Hanif menilai kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi penting dalam membangun perubahan perilaku masyarakat secara luas dan berkelanjutan. “Kita membutuhkan keterlibatan semua pihak, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan akademisi, untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan”.
Upaya ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menargetkan peningkatan kinerja pengelolaan sampah melalui pengurangan dari sumber serta penguatan sistem pengolahan terpadu. Pemerintah meyakini, melalui langkah yang konsisten dan kolaborasi yang kuat, transformasi pengelolaan sampah di Kalimantan Selatan dapat menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
Informasi Tambahan:
Menteri Hanif juga memimpin aksi bersih bersama di Pasar Martapura guna mendorong gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) sebagai budaya sehari-hari bagi masyarakat Kalimantan Selatan.
Penanggung Jawab:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup
Yulia Suryanti
| Telepon | : +62 811-9434-142 |
| Website | : kemenlh.go.id |
| : humas@kemenlh.go.id | |
| : kemenlh_bplh | |
| Youtube | : KLH-BPLH |
| TikTok | : Kemenlh_BPLH |
| X | : KemenLH_BPLH |