Logo

Sampah Dipilah, Emisi Berkurang: Warga Bandung Buktikan Aksi Lingkungan Bisa Bernilai Ekonomi

29 Agustus 2026 59 Dilihat
Sampah Dipilah, Emisi Berkurang: Warga Bandung Buktikan Aksi Lingkungan Bisa Bernilai Ekonomi

Bandung, 29 Agustus 2026 — Berhasil mengumpulkan lebih dari 60 ton sampah organik secara terpilah setiap harinya, gerakan warga di tingkat RW di Kota Bandung kini membidik peluang baru untuk masuk ke dalam ekosistem perdagangan karbon. Potensi strategis ini dikupas dalam sesi diskusi pengelolaan sampah dan ekonomi karbon oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada ajang “National Carbon Forum: Perdagangan Karbon Sektor Limbah” yang dihelat di Bandung, Kamis (20/8/2026).

Plt. Direktur Tata Kelola Penerapan Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH, Haryo Pambudi, menegaskan bahwa aksi nyata pengurangan emisi dari pengelolaan sampah sangat berpeluang dikembangkan ke dalam skema kredit karbon, asalkan didukung dengan data yang valid dan transparan.

​"Aktivitas pengelolaan sampah harus tercatat, terukur, dan dapat ditelusuri agar kontribusi pengurangan emisinya dapat diperhitungkan," ujar Haryo.

​Capaian impresif di Kota Bandung ini dimotori oleh Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) melalui program GASLA yang telah menggandeng petugas di sekitar 1.501 RW sejak awal 2026. Direktur Eksekutif YPBB, David Sutasurya, mengungkapkan bahwa volume sampah yang terkumpul kini telah melampaui target awal sebesar 45 ton per hari. Kendati demikian, David mengingatkan bahwa peningkatan pemilahan ini harus segera diimbangi dengan perluasan fasilitas pengolahan, mengingat total timbulan sampah organik Kota Bandung mencapai sekitar 641 ton per hari.

Untuk menjembatani aktivitas lapangan ke dalam sistem hitung karbon, YPBB bersama para mitra mengembangkan “Project MERIT”. Melalui inisiatif ini, mereka membangun baseline historis dan faktor emisi lokal, seperti yang telah diterapkan di TPA Sarimukti dengan standar data Tier 2, sebagai bagian dari Rencana Aksi Pengurangan Emisi Metana yang melibatkan 12 kabupaten/kota.

Menanggapi hal tersebut, Haryo memastikan bahwa gerakan kolektif dari berbagai bank sampah dan komunitas lokal tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Seluruh aktivitas tersebut dapat dihimpun ke dalam satu skema terintegrasi.

"Yang penting, setiap aktivitas tetap bisa dilacak sehingga kontribusi masing-masing pelaku tetap terlihat," jelas Haryo. 

​Melalui sistem pelacakan dan pengukuran yang akurat, bank sampah kini memiliki peluang emas untuk membuktikan kontribusi nyata mereka terhadap penurunan emisi gas rumah kaca. Pengelolaan sampah di akar rumput terbukti tidak hanya sukses menjaga kebersihan kota, tetapi juga bertransformasi menjadi pilar penting dalam ekonomi hijau nasional.

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image