Logo

Sampah Sumbang 61 Persen Emisi Metana Nasional, Pengurangan dari Sumber Tak Bisa Ditunda

11 Juni 2026 423 Dilihat
Sampah Sumbang 61 Persen Emisi Metana Nasional, Pengurangan dari Sumber Tak Bisa Ditunda

 

Jakarta, 11 Juni 2026 – Pengelolaan sampah menjadi salah satu kunci penting dalam upaya Indonesia menekan emisi gas rumah kaca. Dalam rangkaian Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (INVIROTECH) 2026 di Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan bahwa sektor sampah saat ini menyumbang sekitar 61 persen emisi metana nasional, menjadikannya salah satu fokus utama dalam pencapaian target iklim Indonesia.

Perwakilan Direktorat Penanganan Sampah KLH/BPLH, Andina Tasan, menjelaskan bahwa emisi metana dari sampah, khususnya sampah organik yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), merupakan salah satu sumber emisi yang perlu segera ditangani. Menurutnya, pendekatan pengelolaan sampah yang selama ini hanya berfokus pada pengangkutan dan pembuangan ke TPA sudah tidak lagi memadai.

"Sampah organik merupakan sumber utama emisi metana. Karena itu, pengurangan dari sumber melalui pemilahan, pengomposan, dan penerapan prinsip 3R menjadi langkah yang harus diperkuat untuk menekan emisi sekaligus mengurangi beban TPA," ujar Andina dalam forum “Kemitraan Antar Pihak dalam Pengurangan dan Penanganan Sampah Organik dan Emisi Metana di Indonesia”.

Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Global Methane Pledge yang menargetkan penurunan emisi metana sebesar 30 persen pada tahun 2030. Pemerintah daerah menjadi aktor penting dalam implementasinya melalui penguatan sistem pengelolaan sampah di tingkat lokal.

Dalam forum yang sama, Senior Analyst Climate Policy Initiative (CPI), Ira Purnomo, menilai sektor sampah merupakan salah satu peluang mitigasi perubahan iklim yang paling efektif dan hemat biaya. Menurutnya, investasi pada sistem pengelolaan sampah yang lebih baik akan memberikan manfaat berlapis, mulai dari penurunan emisi, penghematan anggaran daerah, hingga peningkatan kesehatan masyarakat.

"Aksi nyata di sektor sampah bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Jika pola lama terus dipertahankan, biaya yang harus ditanggung akan jauh lebih besar, baik dari sisi lingkungan, kesehatan, maupun ekonomi," kata Ira.

Selain menekan emisi, transformasi pengelolaan sampah juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan kompos, budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), serta berbagai model ekonomi sirkular yang mampu menciptakan lapangan kerja di tingkat lokal.

Melalui berbagai diskusi dan pameran teknologi lingkungan dalam INVIROTECH 2026, KLH/BPLH terus mendorong lahirnya solusi inovatif untuk mempercepat pengurangan emisi metana. Penguatan pengelolaan sampah dari sumber dinilai menjadi langkah strategis untuk mendukung target iklim nasional sekaligus mewujudkan sistem persampahan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image