Logo

Urban Farming Jadi Solusi Pangan Kota, DWP KLH/BPLH Ajak Warga Mulai dari Rumah

13 Juni 2026 498 Dilihat
Urban Farming Jadi Solusi Pangan Kota, DWP KLH/BPLH Ajak Warga Mulai dari Rumah

Jakarta, 13 Juni 2026 – Pekarangan rumah, gang permukiman, hingga sudut-sudut lahan sempit dapat menjadi sumber pangan yang produktif. Melalui teknologi urban farming, masyarakat dapat menanam sendiri kebutuhan pangannya sekaligus berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Semangat inilah yang diangkat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup  (DWP KLH/BPLH) bersama ProKlim Utama Jatinegara Kaum RW 01 melalui Pelatihan Teknologi Urban Farming Terintegrasi yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 pada Sabtu (13/06/2026).

Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan berbagai teknologi budidaya tanaman yang dapat diterapkan di lahan terbatas. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, urban farming juga berperan dalam mengurangi jejak karbon, memperluas ruang hijau, serta memperkuat ketahanan pangan dan ketahanan iklim di kawasan perkotaan.

Ketua pelaksana kegiatan, Mayang Syaiful Anwar, mengatakan urban farming merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat maupun lingkungan.

"Urban farming membantu warga kota memperoleh bahan pangan yang segar, sehat, dan terjangkau. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi mengurangi jejak karbon sekaligus mengubah lahan yang kurang produktif menjadi ruang hijau yang bermanfaat," ujar Mayang.

Pelatihan menghadirkan delapan tutor yang membimbing peserta mempraktikkan berbagai metode budidaya tanaman di ruang terbatas. Teknologi yang diperkenalkan meliputi vertikultur, yaitu teknik bercocok tanam secara bertingkat; hidroponik, budidaya tanaman tanpa tanah dengan media air dan nutrisi; aquaponik, sistem terpadu antara budidaya tanaman dan ikan; serta fertikultur, teknik budidaya bertingkat dengan sistem fertigasi.

Salah satu materi yang paling diminati peserta adalah praktik hidroponik menggunakan Sistem Wick (sumbu). Metode ini dikenal sederhana dan mudah diterapkan oleh pemula karena memanfaatkan sumbu kain untuk menyalurkan larutan nutrisi dari wadah penampung ke akar tanaman.

Peserta memperoleh pendampingan mulai dari proses penyemaian benih menggunakan media rockwool, pemindahan bibit ke netpot, pemberian nutrisi, hingga teknik perawatan tanaman sampai masa panen. Berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bayam, pakcoy, dan selada dapat dipanen dalam waktu relatif singkat, sekitar 20–30 hari.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk kolaborasi antara DWP KLH/BPLH dan komunitas binaan Program Kampung Iklim (ProKlim) dalam mendorong aksi nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis masyarakat. Melalui pendekatan yang sederhana dan mudah diterapkan, urban farming diharapkan dapat menjadi solusi yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat perkotaan.

Dengan memanfaatkan ruang yang tersedia dan teknologi yang tepat, masyarakat tidak hanya dapat meningkatkan kemandirian pangan keluarga, tetapi juga berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan. Upaya kecil dari rumah dan lingkungan sekitar tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan pangan dan ketahanan iklim untuk masa depan.

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image