Banyumas, 7 November 2026 — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) terus mendorong penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah berbasis pemilahan dari sumber. Salah satu implementasi nyata tersebut diwujudkan lewat pengembangan fasilitas Waste Station di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang sukses mengintegrasikan pengelolaan sampah anorganik dengan perolehan nilai ekonomis bagi warga. Fasilitas kolaboratif antara Pemerintah Kabupaten Banyumas, Rekosistem, dan Bank Tabungan Negara (BTN) ini diresmikan secara resmi di Pendopo Si Panji, Banyumas, Kamis (5/11/2026).
Waste Station dirancang sebagai fasilitas pengumpulan sampah anorganik terpilah. Melalui sistem ini, masyarakat dapat menyetorkan sampah yang telah dipilah langsung dari rumah dan mengonversikannya menjadi saldo digital via aplikasi, yang dapat ditarik langsung ke rekening BTN. Selanjutnya, sampah yang terkumpul disalurkan kepada mitra daur ulang untuk diproses menjadi material bernilai guna atau sumber energi alternatif.
Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun KLH/BPLH, Vinda Damayanti Ansjar, mengapresiasi sinergi lintas sektor ini sebagai pilar penting dalam memperkuat penanganan sampah berbasis partisipasi aktif publik dan dunia usaha. Menurut Vinda, tolok ukur keberhasilan fasilitas ini tidak hanya dilihat dari ketersediaan infrastruktur fisiknya semata.
"Keberhasilan Waste Station harus diukur dari partisipasi masyarakat dan volume sampah yang berhasil didaur ulang, serta seberapa besar manfaat ekonomi dan lingkungan yang dihasilkan secara berkelanjutan," tutur Vinda.
Vinda berharap kehadiran Waste Station ini dapat mendongkrak performa pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas sekaligus menjadi benchmark atau contoh inspiratif bagi daerah lain dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular.
Tantangan Timbulan Sampah dan Komitmen Bersama
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, memaparkan bahwa volume timbulan sampah di wilayahnya saat ini mencapai 738 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sebanyak 573 ton (77,76 persen) telah berhasil dikelola, sementara sekitar 164 ton sisanya masih memerlukan penanganan lebih intensif yang menuntut perubahan perilaku serta keterlibatan kolektif.
"Sampah tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang," tegas Sadewo.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Commercial Banking BTN, Hermita, menyatakan bahwa keikutsertaan perbankan dalam proyek ini merupakan bagian dari komitmen nyata mendukung pembangunan berkelanjutan sekaligus membuka ruang peningkatan kesejahteraan warga.
"Dari tempat sampah, kelola sampah hingga menjadi rupiah, ini akan meningkatkan pendapatan masyarakat," ungkap Hermita.
Ke depannya, layanan Waste Station di Banyumas direncanakan untuk terus dikembangkan hingga mencakup penanganan sampah organik. Perluasan cakupan ini diharapkan mampu mendongkrak efisiensi ekonomi sirkular secara masif serta menekan volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Melalui inisiatif ini, KLH/BPLH terus menggalakkan transformasi paradigma yang mengubah pola lama kumpul-angkut-buang menjadi budaya pengurangan, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, dunia usaha, and masyarakat, sampah terbukti mampu beralih fungsi dari sekadar beban ekologis menjadi sumber daya bernilai tambah bagi kesejahteraan rakyat and kelestarian lingkungan.