Dunia kini menatap ke arah Belém, sebuah kota di tepi Sungai Pará, Brasil, yang saat ini tengah menjadi tuan rumah Konferensi Para Pihak ke-30 atau COP30 pada 10–21 November. Pemilihan Belém bukan tanpa alasan. Kota dengan perkiraan populasi sekitar 2.453.800 jiwa ini berada di jantung Hutan Amazon, hutan tropis terbesar di dunia yang sering disebut sebagai paru-paru bumi.
Dari sinilah udara segar bagi planet ini berasal, dan dari sinilah pula dunia diingatkan tentang rapuhnya keseimbangan alam. Dalam beberapa dekade terakhir, Amazon menghadapi tekanan luar biasa — kebakaran hutan, pembukaan lahan, dan eksploitasi sumber daya — yang membuat paru-paru itu mulai sesak.
COP30 menjadi momen simbolik sekaligus krusial. Forum ini menandai satu dekade sejak lahirnya Perjanjian Paris, kesepakatan bersejarah yang menyatukan negara-negara di dunia untuk menahan laju pemanasan global. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan arah yang belum sejalan.
Menurut IPCC (AR6), suhu global telah meningkat sekitar 1,07 °C sejak era pra-industri, dengan dampak nyata berupa banjir besar, gelombang panas ekstrem, kekeringan, dan penurunan produktivitas tanaman di berbagai wilayah. Setengah populasi dunia menghadapi ketidakamanan air setidaknya satu bulan dalam setahun. Jika emisi gas rumah kaca tidak segera diturunkan, target pemanasan global ≤1,5 °C sulit dicapai, dan skenario dampak jauh lebih buruk akan terjadi.
Adaptasi terhadap perubahan iklim juga memerlukan pembiayaan besar — negara berkembang diperkirakan memerlukan US$127 miliar per tahun hingga 2030. Dengan latar belakang itu, COP30 di Belém diharapkan menjadi titik balik: saat dunia berhenti berdebat tentang siapa yang bersalah, dan mulai bersama mencari jalan keluar.
Peran Indonesia di Panggung Dunia
Bagi Indonesia, COP30 adalah panggung penting untuk menunjukkan bahwa negara berkembang dapat menjadi bagian dari solusi bukan sekadar korban krisis. Sebagai negara kepulauan tropis dengan hutan luas dan garis pantai panjang, Indonesia merasakan langsung dampak perubahan iklim — dari abrasi di pesisir utara Jawa, kekeringan di Nusa Tenggara, hingga kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.
Namun di balik tantangan itu, tersimpan peluang besar. Indonesia tengah mengembangkan pasar karbon yang menekankan integritas dan kredibilitas lingkungan. Bukan sekadar jual beli kredit karbon, tetapi sebuah sistem yang memastikan manfaatnya juga dirasakan masyarakat dan ekosistem di daerah. Langkah ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam membangun ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Komitmen itu juga tercermin dalam berbagai inisiatif nyata, seperti FOLU Net Sink 2030 yang menargetkan sektor kehutanan dan lahan untuk menyerap lebih banyak emisi dibanding yang dilepaskan, serta kemitraan Just Energy Transition Partnership (JETP) yang mendorong percepatan transisi energi bersih. Di sisi lain, pemerintah melalui Bappenas dan OJK terus memperkuat regulasi dan infrastruktur pasar karbon nasional agar transparan, kredibel, dan inklusif. Upaya-upaya konkret ini mempertegas bahwa Indonesia tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak.
Isu pendanaan iklim juga menjadi prioritas. Negara-negara berkembang selama ini menunggu komitmen nyata dari negara maju untuk membantu pendanaan adaptasi dan mitigasi. Indonesia berencana memperjuangkan agar janji itu benar-benar diwujudkan — bukan hanya dalam bentuk angka di atas kertas, tetapi lewat dukungan nyata untuk transisi energi, perlindungan hutan, dan pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, Indonesia telah memperbarui komitmen pengurangan emisi hingga 2035 dan mulai merancang peta jalan transisi energi. Langkah ini sejalan dengan upaya global untuk mengakhiri ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan mempercepat penggunaan energi terbarukan. Dalam forum seperti COP30, rencana-rencana konkret ini akan menjadi bukti bahwa Indonesia tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak
Harapan dari Amazon
Ketika para pemimpin dunia, ilmuwan, dan aktivis berkumpul di Belém saat ini, mereka tidak hanya membahas data dan perjanjian. Mereka akan berbicara tentang masa depan kehidupan — tentang hutan yang menyimpan keseimbangan iklim, tentang laut yang menampung harapan, dan tentang manusia yang bergantung pada keduanya.
Amazon menjadi simbol bagi bumi yang sedang meminta tolong. Dari pepohonan yang menjulang, dari sungai yang mengalir tanpa henti, dunia seakan mendengar bisikan bahwa menjaga alam bukanlah pilihan, melainkan kewajiban moral. Pesan itu menggema hingga ke Nusantara, di mana hutan Kalimantan dan Papua juga memegang peran penting dalam menjaga kestabilan iklim global.
Bagi Indonesia, COP30 adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan krisis iklim tidak hanya terjadi di ruang negosiasi, tetapi juga di hutan, pesisir, dan desa-desa yang menjadi garis depan pertahanan bumi. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dunia usaha, dan generasi muda menjadi kunci keberhasilan menghadapi tantangan ini.
Seperti pepatah Brasil, “Um rio é feito de muitas gotas” — sungai besar terbentuk dari banyak tetes air. Begitu pula masa depan planet ini, dibangun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.
Dari jantung Hutan Amazon hingga ke hutan-hutan tropis Indonesia, dunia diingatkan bahwa menjaga bumi bukan sekadar tanggung jawab generasi ini, tetapi juga janji kepada generasi yang akan datang. COP30 bukan hanya pertemuan antarnegara akan tetapi lebih dari itu, yakni panggilan hati bagi seluruh umat manusia untuk segera bertindak merawat bumi sekarang juga sebelum terlambat.
Yogyakarta, 13 November 2025
Penulis: Yustinus Ade Stirman, Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda pada Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa