Logo

Cuan dari Kelola Lingkungan Berkelanjutan: Menteri LH Gandeng Akademisi Ubah Potensi Karbon Untuk Kesejahteraan Rakyat

28 Oktober 2026 945 Dilihat
Cuan dari Kelola Lingkungan Berkelanjutan: Menteri LH Gandeng Akademisi Ubah Potensi Karbon Untuk Kesejahteraan Rakyat

 

 

Medan, 28 Oktober 2026 — Menghadapi dinamika global di mana isu lingkungan telah menjadi perhatian utama setiap negara, pengelolaan ekosistem kini tidak lagi sekadar urusan pelestarian, melainkan peluang strategis untuk menggerakkan perekonomian rakyat. Pesan tegas tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, saat menyampaikan orasi ilmiah di hadapan para wisudawan program sarjana (S1) dan pascasarjana (S2) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Periode I Tahun 2026 di Medan, Sumatera Utara, Selasa (27/10/2026).

"Kita mengenal adanya gas rumah kaca, suhu meningkat, ketinggian air laut meningkat, dan terjadi perubahan iklim, merusak banyak kegiatan ekonomi dan pertanian di masyarakat. Co2 yang dihasilkan dari setiap kegiatan manusia dan industri, semua di seluruh dunia diminta untuk menekan emisi gas rumah kaca," tutur Menteri Jumhur.

​

Dari Restorasi Alam Menuju Peluang Ekonomi Karbon dan Biodiversitas

​Menteri Jumhur membedah logika ekonomi baru di balik pemulihan ekosistem. Jika di masa lalu pembukaan hutan dan pendirian industri berjalan tanpa memandang beban lingkungan, dunia kini sepakat bahwa kerusakan alam wajib direstorasi. Kesepakatan global inilah yang melahirkan sektor-sektor ekonomi baru bernilai tinggi, termasuk komersialisasi oksigen dan perdagangan karbon.

Indonesia, sebagai pemilik kekayaan megabiodiversitas terbesar di darat dan di laut, memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pemasok utama karbon dunia. Pemerintah saat ini juga tengah memperjuangkan agar kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang kerap menjadi basis bahan baku industri farmasi global agar memiliki nilai kredit ekonomi yang mendatangkan manfaat besar bagi negara.

​"Nanti teknisnya para wisudawan S1 dan S2 harus mendalami soal perdagangan karbon. Karena ini adalah suatu kegiatan yang sangat berdampak langsung kepada masyarakat dan kita terhubung dengan semua manusia yang ada di bumi. Boleh jadi satu wilayah yang ada misal di Deli Serdang, satu kawasan mangrove atau hutan di Deli Serdang itu oksigennya dibeli oleh Microsoft di Amerika Serikat dan nilainya bisa berjuta-juta dolar AS," ungkap Menteri Jumhur.

 

​Peluang Green Jobs dan Peran Strategis Kampus

​Transformasi besar tata kelola lingkungan ini dipastikan akan mendobrak pasar tenaga kerja melalui penciptaan lapangan kerja hijau (green jobs). Pemerintah dalam waktu dekat segera mendorong legalisasi profesi auditor lingkungan, sebuah sektor keahlian baru yang diproyeksikan mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja terampil.

​Dalam kesempatan tersebut, Menteri Jumhur juga mengapresiasi komitmen UMSU dalam mengembangkan isu kawasan hijau yang sejalan dengan pelestarian biodiversitas global. Menteri Jumhur mengajak kaum intelektual kampus untuk senantiasa menebarkan darma bakti dan kecerdasan ilmu pengetahuan menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat.

​"Ide-ide, kecerdasan-kecerdasan ilmu pengetahuan bisa ditebarkan bersama-sama menjadi sebuah gerakan. Itu UMSU sudah pasti mengerti soal itu karena memang hidupnya selalu dalam pergerakan," tambah Menteri Jumhur.

​Menutup orasi ilmiahnya, Menteri Jumhur memberi pesan tegas kepada para wisudawan agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti di atas kertas, melainkan mendarat dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan bangsa.

​"Yang asyik itu kerja banyak tapi dampaknya juga banyak. Saya yakin ini sudah puluhan tahun dilakukan oleh kampus-kampus Muhammadiyah, saya yakin akan berdampak. UMSU akan bekerja di masyarakat dan berdampak bagi masyarakat," pungkas Menteri Jumhur

 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image