Jakarta, 11 Juni 2026 – Program Adiwiyata genap berusia 20 tahun. Berawal dari 10 sekolah perintis pada 2006, program yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup kini telah menjangkau lebih dari 34.000 sekolah di seluruh Indonesia dan menjadi salah satu gerakan pendidikan lingkungan terbesar di tanah air.
Peringatan Dua Dekade Adiwiyata yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta menjadi momentum untuk memperkuat komitmen membangun generasi yang peduli lingkungan dan tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim.
PLT Direktur Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup (PPGLH) KLH/BPLH, Sinta Saptarina Soemiarno, mengatakan Program Adiwiyata telah berkembang menjadi gerakan nasional yang mendorong lahirnya generasi berkarakter dan berbudaya lingkungan.
“Program Adiwiyata telah berkembang menjadi gerakan nasional yang mendorong lahirnya generasi berkarakter, berbudaya lingkungan, dan memiliki kepedulian nyata terhadap masa depan bumi. Pendidikan lingkungan hidup merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya dirasakan tidak hanya oleh sekolah, tetapi juga masyarakat secara luas,” ujar Sinta.
Komitmen tersebut diperkuat melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2025 yang menitikberatkan pembinaan sekolah pada lima aspek utama, yaitu kebersihan dan sanitasi, pengelolaan sampah, pelestarian keanekaragaman hayati, konservasi air, serta penghematan energi.
Implementasi program ini telah melahirkan berbagai praktik baik di sekolah. Salah satunya dilakukan SMK Islam Said Na’um yang mengembangkan kegiatan hidroponik sebagai bagian dari Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS).
Pembina Adiwiyata SMK Islam Said Na’um, Rinda Kurniawati, mengatakan kegiatan lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan mampu membangun kesadaran siswa untuk menjaga lingkungan sejak dini.
“Melalui Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah, siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau sekolah, tetapi tanggung jawab setiap individu. Kegiatan hidroponik menjadi salah satu sarana untuk membentuk karakter peserta didik agar lebih peduli terhadap lingkungan,” ujar Rinda.
Dampak Adiwiyata juga terlihat dalam Challenge KLH/BPLH–World Clean Up Day terkait Kampanye Beberesih Sekolah 2026 yang berlangsung sejak Hari Bumi hingga Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Berdasarkan data per 8 Juni 2026, kegiatan ini telah menjangkau 27 provinsi dan 152 kabupaten/kota dengan melibatkan 358.731 relawan yang terdiri atas siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
Dari aksi tersebut, sebanyak 526.590 kilogram atau sekitar 526 ton sampah berhasil dikelola. Capaian ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat perubahan perilaku yang mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Memasuki usia ke-20 tahun, Program Adiwiyata diharapkan terus berkembang sebagai gerakan nasional yang memperkuat pendidikan lingkungan hidup sekaligus mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan di masa depan.