Surabaya, 1 Februari 2026 — Pengelolaan sampah di kota metropolitan kini tidak lagi sekadar urusan pembuangan, melainkan langkah strategis menuju ekonomi sirkuler dan pencapaian target net zero emission. Salah satu model transformasi yang dinilai paling efektif adalah penerapan teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) seperti yang telah diimplementasikan di TPA Benowo, Surabaya. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi teknologi dan kebijakan lingkungan mampu mengubah beban limbah menjadi sumber daya energi yang berkelanjutan.
Kepala Bidang Wilayah III Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa, KLH/BPLH, Gatut Panggah Prasetyo, menegaskan bahwa PSEL merupakan pilihan strategis yang tidak bisa ditawar, terutama bagi wilayah dengan timbulan sampah melebihi 1.000 ton per hari. Tanpa intervensi teknologi yang tepat, akumulasi sampah perkotaan berpotensi membentuk gunung sampah yang meluas dan meninggi, yang pada akhirnya mengancam keselamatan serta kesehatan masyarakat secara luas.
“Jika sampah tidak dikelola, ia akan menjadi masalah serius. PSEL di TPA Benowo adalah contoh bagaimana timbulan sampah yang besar bisa dikendalikan. Kalau tidak, gunung sampah akan terus bertambah dan menimbulkan risiko lingkungan,” ujar Gatut.
Sejalan dengan semangat ekonomi sirkuler, TPA Benowo kini terus dikembangkan melalui skema re-mining, yaitu optimalisasi kembali timbunan sampah lama. Melalui teknologi pirolisis, sampah hasil re-mining tersebut diolah menjadi bahan bakar alternatif. Inovasi ini menjadi kunci dalam mengurangi beban kapasitas TPA sekaligus mempercepat transisi energi hijau di tingkat lokal.
Keberhasilan Surabaya tidak berhenti pada pengolahan energi. Kota ini juga menunjukkan kepemimpinan dalam pemulihan ekosistem melalui transformasi kawasan eks TPA menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH), seperti yang terlihat pada Taman Harmoni. Proses pembersihan dan pembangunan yang dilakukan pada periode 2011–2014 tersebut berhasil mengubah wajah lahan bekas pembuangan menjadi destinasi wisata yang asri bagi masyarakat.
Menurut Gatut, transformasi ini adalah upaya vital untuk mengembalikan fungsi lingkungan agar lebih bersih dan sehat. Penanaman vegetasi yang masif di area eks TPA terbukti efektif memperbaiki kualitas udara dan menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk di tengah kepadatan kota. Namun, ia memberikan catatan tegas bahwa setiap alih fungsi lahan TPA harus didasari pada kajian teknis yang mendalam.
“Keamanan struktur tanah, potensi sisa gas dari TPA, dan aspek teknis lainnya harus benar-benar dipastikan aman agar tidak menimbulkan dampak di kemudian hari,” jelas Gatut.
Sebagai kota metropolitan dengan dinamika populasi yang tinggi, Surabaya memang memiliki tantangan besar dalam mengelola volume sampah. Meski sistem di hilir seperti PSEL dan pemulihan lahan telah berjalan sukses, penguatan pengawasan lingkungan dan kesadaran di tingkat hulu tetap menjadi fondasi utama.
“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan TPA. Upaya pengurangan dan pemilahan dari sumbernya harus semakin ditingkatkan agar sistem pengelolaan berjalan optimal,” pungkas Gatut.